Kupas Tuntas Riba dalam Islam

Riba dalam Islam.

Kata “riba” mungkin sudah bukan lagi kata yang asing terdengar di telinga Anda. Bagi Anda pelaku bisnis mungkin sedikit banyak Anda telah mengetahui arti dari kata tersebut. Namun apakah Anda benar-benar paham maksud dari kata tersebut? Supaya tidak salah ketika melakukan bisnis maka inilah beberapa hal penting tentang riba.

Sebenarnya, Apa itu Riba?

Kata riba dalam bahasa Arab memiliki arti yakni yang meningkat atau tumbuh dan berlipat ganda.

Secara istilah pengertian riba adalah pemberlakuan bunga atau penambahan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Dengan kata lain, arti riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam meminjam.

Pengertian Riba dalam Islam Menurut Para Ahli Fiqih

Agar lebih memahami apa arti riba, coba baca rujukan pendapat riba oleh beberapa ahli fiqih. Berikut ini adalah pengertian riba menurut para ahli fiqih:

1. Al-Mali

Menurut Al-Mali pengertian riba adalah akad yang terjadi atas pertukaran barang atau komoditas tertentu yang tidak diketahui perimbangan menurut syara’, ketika berakad atau mengakhiri penukaran kedua belah pihak atau salah satu dari keduanya.

2. Rahman Al-Jaziri

Menurut Rahman Al-Jaziri arti riba adalah akad yang terjadi dengan pertukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut syara’ atau terlambat salah satunya.

3. Syeikh Muhammad Abduh

Menurut Syeikh Muhammad Abduh pengertian riba adalah penambahan-penambahan yang disyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan.

Baca juga Pengertian Syariah

Riba merupakan salah satu penyakit paling berbahaya yang diderita masyarakat. Tanpa disadari riba mendukung sebuah ungkapan cacat ekonomi bahwa orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskis, sebab riba sama halnya dengan orang kaya memperdaya orang miskin sehingga ia mengambil lebih banyak uang dari orang yang miskin itu dari pada yang ia berikan.

Riba bisa dikatakan sebagai penambahan sejumlah uang diluar dari yang dipinjam seseorang.

Sebagai contoh, Anda meminjam uang di Bank sebesar Rp10 juta dengan dibebankan bunga 2%, maka disaat pengembalian Anda diwajibkan membayar pokok hutang sebesar Rp10 juta dan tambahan 2% bunga dari Rp10 juta, yakni Rp200 ribu. Tambahan 2% ini lah yang disebut dengan riba.

Zaman dahulu riba sangat dilarang dan diberi label hukum yang jelas berbeda dengan jual beli. Karena jual beli menukarkan uang dengan barang yang nilainya dianggap sama atau hampir sama.

Tetapi, bagaimana dengan riba? Nah, inilah perbedaan mendasar mengapa riba dalam islam tidak diperbolehkan seperti halnya jual beli yang biasa kita lakukan sehari-hari.

Praktik Riba Di Sekitar Kita

Apa saja praktik riba dalam kehidupan sehari-hari? Nah, dalam keseharian ada beberapa praktik riba yang kerap terjadi. Anda mungkin sebagian sudah mengetahui atau sering menjumpai, tetapi tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah riba.

Ternyata, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang riba dan inilah beberapa uraiannya:

1. Bunga pada Bank Konvensional

Screen Shot 2019 11 02 at 13.58.19

Bagi umat Islam, pemberlakuan bunga dengan persentase tertentu pada pinjaman Bank Konvensional atau lembaga keuangan lainnya merupakan bagian dari riba karena membuat nilai awal dari pinjaman berubah. Atau bisa dikatakan ada penambahan nilai dari nilai transaksi peminjaman.

Bahkan ada yang jika terus dibiarkan lama bisa mencapai dua kali lipat dari nilai pokok.

Bunga ketika Anda meminjam uang di bank adalah termasuk riba sehingga sangat dianjurkan bagi Anda untuk tidak sampai melakukan pinjaman tersebut.

Karena bagaimanapun juga jika pinjamannya berbunga maka hal ini adalah riba dan tidak bisa dianggap benar.

Istilah “bunga” ini juga menjadi “pemanis” atau kamuflase supaya riba mudah diterima dan terlihat “ramah” di mata masyarakat. Sehingga masyarakat menjadi tidak malu untuk melakukan transaksi riba, karena yang dilihat pada saat penawaran adalah “bunga” bukan “riba”.

2. Menjual Barang yang Belum Ada Wujudnya

Menjual barang kepada orang lain tanpa terlebih dahulu sebelum memiliki barang itu sendiri merupakan Satu hal yang banyak dilakukan oleh penjual online. Para penjual hanya bermodalkan foto-foto untuk dipublikasikan tanpa memiliki barang tersebut. Hal ini juga merupakan transaksi riba. Namun demikian, jika sudah benar-benar tahu supplier-nya maka tidak apa-apa. Apabila penjual tersebut sudah memiliki persetujuan dengan pemilik barang maka juga tidak mengapa.

Yang dikhawatirkan adalah sistem yang merugikan pelanggan. Sebenarnya jika kualitas barang dan harganya seimbang maka tidak akan menimbulkan masalah. Namun, sangat dikhawatirkan risiko ini terjadi akibat kelalaian.

Oleh sebab itu sistem laku bayar sangat dianjurkan dalam meminimalisasi kondisi tersebut sehingga tidak ada pihak yang dirugikan baik itu adalah penjual maupun pembelinya.

Semua akan mendapatkan keuntungan berupa uang atau barang yang sesuai dengan harapan.

3. Menaikkan Harga Barang Titipan

Semisal Anda diminta oleh teman Anda atau orang lain untuk membelikan suatu barang karena satu atau lain hal. Harga baran tersebut Rp50 ribu, tetapi Anda memberi tahu harga tersebut pada teman Anda seharga Rp55 ribu. Menjual barang titipan dengan menaikkan harga jual sendiri tanpa sepengetahuan si penitip juga termasuk riba. Karena hal ini jelas-jelas tidak memberikan informasi yang nyata kepada pihak yang uangnya diberikan.

Hal ini beda dengan jastip (jasa titip) karena perjanjian di awal sudah memberikan “label” kata jasa titip dimana harganya pasti ditambah dengan jasa mengantarkan barang tersebut ke customer.

4. Transaksi Online dengan Menipu

Menjual barang lewat online tanpa memberitahu spesifikasi dan foto barang yang sebenarnya juga merupakan tindakan riba. Karena pembeli tidak mengetahui jenis barang apa yang dijual. Ini sering terjadi. Pembeli sering tidak memberitahukan kekurangan dari barang yang dijualnya. Sengaja menutup-nutupi supaya barang tersebut cepat laku.

Berbeda halnya jika penjual sudah tahu betul bagaimana kualitas produknya. Sehingga tidak merugikan orang lain.

Baca juga Air Mineral Dalam Kemasan: Bisnis Sampingan yang Menguntungkan 

Masih banyak lagi praktik riba yang terjadi di masyarakat. Bahkan melakukan praktik tersebut dipermudah dan difasilitasi. Seperti aplikasi-aplikasi peminjaman online yang sekarang marak. Tidak sedikit lembaga atau orang yang ada dibalik aplikasi tersebut melakukan penipuan.

Iklan-iklan yang bermunculan juga manis dan unik. Hal itu juga bertujuan untuk menutupi unsur-unsur riba pada jasa yang ditawarkan. Berkedokkan membantu untuk memenuhi kebutuhan dengan meminjamkan sejumlah uang, tetapi terselip angsuran berbunga yang harus dikembalikan.

Screen Shot 2019 11 02 at 15.20.21
Contoh iklan mengajak riba yang “dipermanis”
Screen Shot 2019 11 02 at 15.20.40
Contoh iklan mengajak riba yang “dipermanis”

Supaya Anda tidak terjerumus ke dalam transaksi riba tersebut secara tidak sadar, perlu juga Anda ketahui macam-macam dan jenis dari riba.

Jenis-Jenis Riba dalam Islam

Secara umum riba dapat dibedakan menjadi dua, yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Berikut penjelasan mengenai kedua jenis riba tersebut:

1. Riba Hutang-Piutang

Pengertian riba hutang-piutang adalah tindakan mengambil manfaat tambahan dari suatu hutang. Riba hutang-piutang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Riba Qardh, yaitu mengambil manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang diisyaratkan kepada penerima hutang (muqtaridh).
  • Riba Jahiliah, yaitu penambahan hutang lebih dari nilai pokok karena penerima hutang tidak mampu membayar hutangnya tepat waktu.

2. Riba Jual-Beli

Apa itu riba jual-beli? Riba jual-beli seringkali terjadi ketika konsumen membeli suatu barang dengan cara mencicil. Penjual menetapkan penambahan nilai barang karena konsumen membelinya dengan mencicil.

Riba jual-beli dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  • Riba Fadhl, yaitu praktik pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan tersebut masih termasuk dalam jenis barang ribawi.
  • Riba Nasi’ah, yaitu penangguhan penyerahan/ penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasi’ah terjadi karena adanya perbedaan, perubahan, atau penambahan antara barang yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

Landasan Hukum Riba dalam Islam

Seperti yang telah disebutkan pada paragraf awal, praktik riba dalam Islam adalah diharamkan. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Quran berikut ini:

1. Q.S. Al-Baqarah: 276

يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَوا وَيُرْبِى الصَّدقَتِ واللهُ لاَيُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْم

Artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. ” (Q.S. Al-Baqarah: 276).

2. Q.S. Al-Baqarah : 275

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَوا لَايَقُمُوْنَ إِلّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبُّطُهُ الشَّيْطَنُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُو اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْل الرِّبَوا وَاَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَوا

Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit jiwa (gila). Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba . . . “(Q.S. Al-Baqarah: 275).

3. Q.S. Al-Baqarah : 278

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Baqarah : 278).

4. Q.S Ali ‘Imran : 130

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba…” (Ali ‘Imran/3: 130)”.

5. Q.S Ar-Ruum 39

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ

Artinya : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah…” (Ar-Ruum/30: 39).

Cara Agar Terhindar dari Riba

Sebenarnya agar terhindar dari riba itu cukup mudah. Solusinya adalah Anda cukup menahan diri Anda dari banyak menginginkan sesuatu, menuruti hawa nafsu. Bedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya sekedar keinginan.

Sudah banyak sekali kisah-kisah sukses orang yang berhasil keluar dari jeratan riba. Ada juga mereka yang pelaku riba pada awalnya kemudian memutuskan untuk keluar dan berpindah haluan untuk mencari rezeki yang halal.

Anda bisa menyimak kisah-kisah dan nasihat-nasihat supaya terhindar dari riba melalui akun Instagram @xbank.indonesia

Dzakya Air Minum Muslim

Dzakya Air Minum Muslim

DZAKYA BRAND AIR MINUM DALAM KEMASAN

Didirikan dengan misi untuk menciptakan usaha yang dapat menjadi tulang punggung bagi pemberdayaan ekonomi umat, dengan menciptakan unit usaha yang mampu menciptakan lapangan kerja baru serta menjadi unit usaha yang dapat memberikan keuntungan yang baik bagi perusahaan.

Dzakya Mineral Water

1. Menjaga Kesegaran Tubuh Dengan Minum Air dengan Kandungan Mineral Baik.

2. Memenuhi Kebutuhan Air Minum Anda & Keluarga.

3. Air Minum di setiap Acara dan Silaturahmi.

Dzakya Brand Air Minum Syariah Indonesia

Dzakya Brand Air Minum Syariah Indonesia

Dzakya adalah brand Air Minum Dalam Kemasan yang didirikan sejak tahun 2001. Dzakya di dirikan di lokasi dataran tinggi, lebih tepatnya di Pakel, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Dzakya didirikan dari semangat umat untuk memenuhi kebutuhan air minum yang berkualitas. Para pendiri Dzakya adalah orang orang sholeh dan memiliki kecakapan di berbagai bidang dan usaha, menjadikan brand dan usaha Dzakya terus berkembang sehingga menjadikan Industri Air Minum Dalam Kemasan berbasis syariah. Nilai nilai syariah di jalankan dalam managemen Dzakya, salah satunya adalah tanpa menggunakan riba dan sistem pembayaran cash kepada setiap supplier usaha Dzakya. Konsep air minum syariah oleh Dzakya benar – benar di utamakan yakni mewujudkan proses yang sesuai dengan peraturan dan perijinan serta mewujudkan produk akhir atau produk jadi air minum yang berkualitas dan halalan toyyiban.

Prinsip dari owner dan managemen Dzakya adalah Harga mati mewujudkan produk Air Minum Halalan Toyyiban, sehingga menjadikan Dzakya produk air minum yang sesuai syariah.

Potensi usaha Dzakya setiap waktu mengalami kemajuan seiring pengembangan sistem dan manajemen. Dzakya mentargetkan menjadi brand air minum muslim di Indonesia dan brand air minum dengan konsep syariah. Konsep air minum muslim syariah Dzakya antara lain mengutamakan ke halalan produk baik dari mesin filter airnya, kemasan dan cara produksinya. Dengan inilah Dzakya bisa lebih mengembangkan usahanya berbasis syariah dan bisa di terima segmen muslim. Sehingga Dzakya di kenal sebagai produk air minum Muslim syariah di kalangan umat.

Saat ini Dzakya menjadi pilihan air minum pertama umat. Umat sangat membantu dalam menyebarkan informasi dan penjualan Dzakya. Informasi bahwa Dzakya adalah air minum umat Islam. Dalam hal ini Dzakya juga menerapkan konsep syariah yakni bermuamalah dengan pemeluk agama keyakinan lainnya. Banyak pelanggan Dzakya dari kalangan pemeluk keyakinan selain Islam, mereka memilih menggunakan Dzakya karena merasakan minum Dzakya lebih enak dan segar airnya.

Potensi Dzakya sebagai Air Minum Muslim Syariah semakin besar dengan meningkatnya ghiroh Islam dan loyalitas kesadaran dengan mensupport dan membantu menyebarluaskan produk Dzakya. Dzakya sebagai produsen Air Minum juga termotivasi dengan kondisi tersebut, sehingga Dzakya mulai bisa bersaing dengan baik terhadap merk merk air minum dalam kemasan skala Nasional serta di wilayah Jawa Tengah dan D.I.Y. Yogyakarta pada khususnya.

 

Dzakya Air Minum Muslim Syariah

Dzakya Air Minum Muslim Syariah

Assalamualaikum

Selamat datang di website official Dzakya
kami akan informasikan beberapa hal menarik terkait Brand Dzakya dalam mukodimah website ini. Akan kita bahas beberapa hal terkait Dzakya Sebagai berikut:

  • Dzakya sebagai produk Air Minum Syariah pilihan Umat Islam di Indonesia
  • Dasar Industri Dzakya Produk Air Minum Halalan Toyyiban
  • Dzakya  menjadi Salah satu bagian perwujudan Syiar dan Dakwah Islam
  • Jenis Kemasan Produk Air Minum Dzakya
  • Potensi Usaha dan Kerjasama dengan Dzakya
     

Sebelum membahas beberapa hal menarik terkait Brand Dzakya Air Minum Dalam Kemasan, kita informasikan sejarah berdiri Dzakya. Dzakya didirikan pada tahun 2001 berlokasi masih sama dengan sekarang, yakni di Ds Gerdu, Pakel, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, berseberangan dengan Pondok Pesantren Isy Karima. Dzakya didirikan oleh orang – orang sholeh yang pada waktu itu mereka adalah para ahli dan pengusaha yang berdomisili di sekitar Surakarta (Solo). Nama Nama Pendiri Pabrik Dzakya silahkan di buka di link ini Pendiri Dzakya.  Pada saat itu didirikanlah Perusahaan Berbadan Hukum dengan Nama PT. Dzakya Tirta Utama, yang merupakan payung legalitas Brand Dzakya. Dzakya sudah silih berganti kepemimpinan dan manajemen sampai dengan saat ini. Pahit Manisnya industri Air Minum Dalam Kemasan sudah di lalui Dzakya, sekarang saatnya Dzakya lebih menancapkan usahanya berkat dukungan dan loyalitas pelanggan dan umat Islam. Sedikit terkait sejarah Dzakya yang akan meluruskan niat dan usaha yang tujuannya untuk kemaslahatan umat. Biidznillah..aamiin

Kembali ke informasi yang terkait Dzakya

Dzakya sebagai produk Air Minum Syariah pilihan Umat Islam di Indonesia

Dzakya memposisikan diri sebagai Air Minum Syariah Muslim, claim tersebut biasa di lihat dari Pemilik Perusahaan yang Muslim dan Pelanggannya kebanyakan Muslim. Tidak hanya itu saja konsep Syariah di terapkan dalam Industri dan Manajemen menjadikan Dzakya Air Minum Syariah pilihan utama Umat Muslim khususnya di wilayah eks Karisidenan Surakarta dan beberapa wilayah di Jawa Tengah.

selanjutnya

 

Dasar Industri Dzakya Produk Air Minum Halalan Toyyiban

Dzakya sudah memenuhi kriteria Produk Air Minum Layak Konsumsi dan yang paling penting Halalan Toyyiban. Dasar Produk Dzakya Halalan Toyyiban adalah Sistem Kelola Industri Air Minum yang sesuai standar SNI dan sudah mendapatkan Sertifikat Halal dari MUI Jawa Tengah dan MUI DIY Yogyakarta. Dalam sistem kelola manajemen Dzakya, Dzakya mengutamakan jual beli putus terhadap supplier dan distributornya. Dengan akad yang tentunya sesuai syariah Islam.

 

Dzakya  menjadi Salah satu bagian perwujudan Syiar dan Dakwah Islam

Dzakya menjadi pioneer Produk Umat Islam yang salah satu misinya adalah menjadi bagian penopang kemaslahatan umat Islam. Dzakya adalah perwujudan syiar dan dakwah Islam, bahwa umat Islam juga mampu memiliki produk Air Minum yang berkualitas sesuai standart SNI dan Mendapat Ijin Edar BPOM Indonesia. Dzakya menjadi bagian di setiap silaturahmi baik keluarga, kelompok, organisasi, sekolah, acara – acara Syiar dan Dakwah.

 

Jenis Kemasan Produk Air Minum Dzakya

Dzakya memiliki beberapa jenis kemasan air minum. Yakni

Dzakya Gelas 240 ml, Gelas 120 ml, Kemasan Botol 600 ml dan 330 ml, serta Kemasan Galon 19 Liter.

Dzakya Kemasan gelas 240 ml dalam satu karton berisi 48 buah gelas beserta sedotan plastik yang di kemas masing masing.

Dzakya Gelas 120 ml dalam satu karton berisi 72 buah gelas mini beserta sedotan plastiknya. Dzakya Gelas 120 ml sering di sebut Dzakya Gelas Mini. Dzakya Gelas Mini khusus Di siapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Dzakya Kemasan Botol 600 ml dalam satu karton berisi sebanyak 24 botol. Biasa di sebut Dzakya botol tanggung.

Dzakya kemasan Botol 330 ml dalam satu karton berisi sebanyak 24 botol. Kemasan Dzakya botol 330ml kerap di sebut Dzakya Botol Kecil

Dzakya Galon memiliki volume isi 19 Liter, Dzakya Galon merupakan pilihan Air Minum Syariah bagi kebutuhan Rumah Tangga muslim.

Potensi Usaha dan Kerjasama dengan Dzakya

Dzakya dalam mengembangkan usahanya selalu membuka pintu Kerjasama dalam pengembangan baik secara industri, distribusi, dan penjualannya. Potensi usaha Produk Air Minum Syariah sangat menjanjikan di mana bisa di lihat dari tumbuhnya Ghiroh umat Islam beberapa akhir tahun ini. Umat Islam di Indonesia sudah mulai sadar dan beralih ke produk produk Muslim dan yang paling sering di lihat adalah usaha kebutuhan harian Umat Islam. Pasar supplier air minum dalam kemasan milik Umat Islam semakin besar dan menjanjikan dari sisi produksi, distribusi, dan penjualan.

Dari sisi Industri Produksi Dzakya membuka kerjasama makloon, kepada saudara saudara muslim untuk memiliki brand sendiri tanpa harus mendirikan Pabrikasi yang saat ini membutuhkan modal tidak sedikit.

Dari sisi Distribusi, Dzakya membuka kesempatan bagi yang sanggup mendistribusikan dan memperluas pasar.

Dari sisi Penjualan, Dzakya membuka peluang bagi saudara saudari muslim untuk menjadi agen dan distributor di wilayahnya atau ekspansi ke Nasional.

Terkait Potensi usaha bersama Dzakya lebih jelas bisa di buka di Menu Web Dzakya. Jangan sampai melewatkan peluang peluang yang ada, segera hubungi Dzakya untuk kesempatan kerjasama.

Demikian Mukodimah Dzakya, semoga Alloh selalu memberikan petunjuk yang baik dan benar kepada setiap ikhtiar kita dan keberkahan kepada Umat Islam di Dunia..aamiin