Kupas Tuntas Koperasi Syariah – Beserta Produk Koperasi yang Bernilai Ratusan MILIAR

Koperasi Syariah – Koperasi merupakan lembaga yang terbukti bisa membantu masyarakat maupun UMKM dalam mengembangkan usahanya.

Bahkan tak jarang Koperasi yang memiliki aseh hingga 2 Triliun, bahkan lebih.

Tapi terkadang citra negatif tentang koperasi juga melekat karena pengelolaan yang tidak profesional.

Koperasi Syariah hadir sebagai solusi pengelolaan koperasi yang lebih ramah dengan masyarakat, dengan mengangkat nilai-nilai syariat Islam.

 

Pengertian Koperasi

Koperasi berasal dari bahasa inggris cooperation, yang memiliki arti kerja sama.

Sedangkan menurut istilah, Koperasi adalah sesuatu perkumpulan yang dibentuk oleh para anggota peserta yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan para anggotanya dengan harga yang relatif rendah dan bertujuan memajukan tingkat hidup bersama.

Pengertian Koperasi Syariah

Koperasi syariah adalah koperasi yang bergerak dengan menerapkan prinsip-prinsip syariah sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, sehingga segala prinsip, tujuan, dan kegiatan usahanya dijalankan sesuai dengan prinsip syariah.

Masyarakat sering menyebut Koperasi Syariah sebagai BMT (Baitul Maal wa Tamwil), dimana BMT sendiri tidak memiliki landasan hukum khusus di Indonesia, sehingga BMT secara legalitas menggunakan landasan Hukum Koperasi Syariah.

Sebagian Ulama menyebut Koperasi Syariah dengan istilah Syirkah Ta’awuiyah (persekutuan tolong-menolong), dimana sebagian orang yang memiliki finansial power memberikan modal kepada pihak lain yang menjalankan usaha atas dasar bagi hasil sesuai perjanjian yang disepakati.

Koperasi Syariah di Negara Indonesia memiliki dasar hukum yang sama seperti koperasi konvensional pada umumnya, akan tetapi koperasi syariah memiliki prinsip, tujuan, dan kegiatan usahanya berdasarkan Al Quran dan Sunnah, dimana semua produk dari Koperasi Syariah harus sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia.

Prinsip Koperasi Syariah

1. Meyakini bahwa kekayaan merupakan amanah dari Allah SWT yang tidak bisa dimiliki siapapun secara mutlak.
2. Manusia diberikan kebebasan bermuamalah selama masih sesuai dengan syariat Islam.
3. Manusia merupakan Khalifah di muka bumi untuk mengelola kekayaan bumi dengan baik.
4. Menjunjung tinggi keadilan, dan menolak segala bentuk praktek riba dan pemusatan sumber daya ekonomi pada segelintir orang.

Koperasi syariah tidak mengenal yang namanya riba, dan menentang keras segala macam bentuk riba, oleh karena itu, sistem bunga diganti menjadi bagi hasil yang disepakati bersama dengan musyawarah.

Tujuan, Fungsi dan Landasan Koperasi Syariah

Tujuan Koperasi Syariah

  1. Mensejahterakan ekonomi anggotanya sesuai norma dan moral Islam:
    Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu musuh nyata bagimu”.(Q.S Al Baqarah:168)
  2. Menciptakan persaudaraan dan keadilan sesama anggota:
    Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki serta seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.(Q.S Al Hujarat: 13).

Fungsi Koperasi Syariah

  1. Secara khusus untuk membangun potensi dan kemampuan anggota, sedangkan secara umum diperuntukkan bagi masyarakat  dengan memiliki tujuan tertentu.
  2. Menguatkan kualitas SDM anggota, agar memiliki sifat Profesional (fathonah), Amanah, Konsisten, dan Konsekuen (isitqomah) di dalam menjalankan koperasi syariah sesuai prinsip-prinsip ekonomi Islam.
  3. Dengan mengedepankan azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi, koperasi syariah ingin mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional dengan mengangkat usaha bersama.
  4. Menjadi fasilitator antara investor (penyandang dana) dengan pengguna dana, sehingga tercapai optimalisasi pemanfaatan harga.
  5. Memperkuat kerjasama antar anggota, sehingga dapat melakukan kontrol kinerja Koperasi Syariah secara efisien.
  6. Memperluas kesempatan kerja dengan membuka lapangan pekerjaan.
  7. Scale-UP usaha anggota yang sudah berjalan, sehingga mampu menaikkan omset dan laba usaha.

Landasan Koperasi Syariah

  1. Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
  2. Berazaskan kekeluargaan
  3. Berlandaskan syariat Islam, yaitu dengan menjalankan prinsip muamalah sesuai Al Quran dan Assunah. Beberapa petunjuk Al Quran yang menjadi petunjuk adalah:
    1. Q.S. An-Nisa 29
    2. Q.S. Al-Baqoroh 275
    3. Q.S. Al-Maidah 1
    4. Fatwa DSN-MUI/VII/2012

Prinsip Koperasi Syariah

  • Memegang prinsip bahwa kekayaan adalah amanah dari Allah yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun di dunia ini secara mutlak.
  • Dalam melakukan muamalah, anggota bebas menjalankannya asalkan sesuai dengan syariat Islam.
  • Manusia diturunkan dimuka Bumi sebagai Khalifah yang memiliki tugas memakmurkan Bumi.
  • Mengedepankan keadilan, menentang keras segala bentuk ribawi, dan menentang kapitalisme (sumber daya hanya dimiliki hanya oleh segelintir orang).

Karena koperasi syariah tidak menenal yang namanya praktek riba, maka keuntungan yang didapatkan dari koperasi syariah yaitu dengan menerapkan konsep bagi hasil dengan besaran yang sudah disepakati bersama.

Begitu juga dalam hal kebersamaan, koperasi tidak menggunakan istilah “demokrasi” dalam menjalankan kegiatannya, dimana dalam konsep demokrasi setiap orang memiliki satu suara, akan tetapi koperasi syariah menggunakan prinsip musyawarah antar anggota dengan memutuskan hal yang paling maslahat.

Produk-Produk Koperasi Syariah

  1. Produk Penghimpunan Dana (funding)

    1. Simpanan Pokok

      Simpanan merupakan modal awal yang disetorkan anggota kepada koperasi sebagai tanda bukti keanggotaan. Besar nominal simpanan pokok yang disetorkan sama antar anggota, tidak dibedakan.

      Simpanan pokok dalam koperasi syariah ini menggunakan akad Musyarakah, yakni transaksi penanaman dana dari dua atau lebih pemilik modal, guna menjalankan usaha yang disepakati, sesuai syariah, dengan pembagian keuntungan dan kerugian yang disepakati.

      Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) NO.08/DSN-MUI/IV/2000. Menyatakan bahwa:

      “Musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud.”

    2. Simpanan Wajib

      Simpanan wajib bisa disebut sebagai modal koperasi (seperti halnya simpanan pokok) dimana besar nominal yang harus dibayar adalah sesuai dengan hasil musyawarah anggota, dan pembanyarannya dilakukkan secara terus-menerus selama masih menjadi anggota.

    3. Simpanan Sukarela

      Simpanan Sukarela dalam sistem koperasi syariah adalah bentuk investasi yang dilakukan oleh anggota atau  calon anggota yang memiliki kelebihan dana (uang dingin) supaya bisa diputar oleh koperasi syariah, sehingga bisa lebih memberikan manfaat kepada umat.

      Setidaknya ada 2 jenis simpanan sukarela yang dijalankan di koperasi syariah, yaitu:

      1. Akad titip atau bisa disebut sebagai Wadi’ah
      2. Investasi
        1. Simpanan/tabungan Idul Fitri
        2. Simpanan/tabungan Idul Qurban
        3. Simpanan/tabungan Haji
        4. Simpanan/tabungan Pendidikan
        5. Simpanan/tabungan Kesehatan
  2. Produk Penyaluran Dana (financing)

    Sebagaimana mestinya, koperasi yang memiliki sifat dan fungsi koperasi, maka sumber dana yang dimiliki harus disalurkan kepada anggota maupun calon anggota.

    Sifat penyaluran kepada anggota ada yang sifatnya komersil, dan ada juga yang sifatnya pengembangan fungsi sosial.

    Adapun penyaluran dana koperasi syariah berdasarkan pada Unit Sektor Rill maupun Unit Jasa Keuangan Syariah (UJKS), yaitu:

    1. Prinsip Jual Beli – Transaksi pembiayaan yang digunakan ketika anggota ingin memiliki barang.
    2. Prinsip Sewa – Transaksi pembiayaan ini diperuntukkan ketika ingin mendapatkan jasa.
    3. Prinsip Bagi Hasil – Transaksi pembiayaan yang lakukan untuk mendapatkan brang dan jasa sekaligus.

    Prinsip jual beli (Tijaroh)

    dikembangkan menjadi beberapa bentuk pembiayaan sebagai berikut:

    1. Pembiayaan Murabahah

      Yaitu Koperasi syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli, dimana harga barang yang dibeli oleh nasabah dinaikkan sesuai harga yang disepakati sebagai keuntungan/upah dari koperasi syariah.

    2. Prinsip Sewa (Ijaroh)

      Prinsip Sewa yang dilakukan oleh koperasi syariah adalah Ijaroh muntahhiyah bittamlik (sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan), dimana landasan utamanya adalah pemindahan manfaat. Prinsip ijaroh disini sebenarnya sama dengan prinsip jual-beli, namun perbedaannya terletak pada objek transaksinya.

      Jika jual beli objek transaksinya adalah barang, maka pada tijaorh objek transaksinya adalah jasa, dimana diakhir masa sewa, koperasi syariah menjual barang kepada nasabah dengan biaya sewa sudah berjalan beberapa waktu.

    3. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)

      Pembiayaan Koperasi Syariah secara Syirkan memiliki pola-pola pembiayaan sebagai berikut:

      1. Musyarakah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam sebuah usaha, dimana keuntungan dan kerugian ditanggung bersama secara dengan porsi yang disepakati.
      2. Mudharabah kerjasama antara pemilik dana (sohibul mall) dengan mudharib (yang memiliki keahlian).  Contoh usaha yang cocok dilakukan prinsip ini seperti pertanian, perdagangan, dan industri rumah tangga.
      3. Mudharabah Muqayadah hampir sama dengan prinsip mudharabah, yang membedakan terletak pada pembatasan penggunaan dana sesuai dengan permintaan sohibul mall.
  3. Pelayanan Jasa (Services)

    1. Alih Utang-Piutang (Al-Hiwalah)
    2. Gadai (Rahn)
    3. Al-Qardh – pinjaman kebaikan, untuk digunakan membantu keuangan anggota secara cepat dan berjangka pendek.
    4. Wakalah – penyerahan atau pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada yang lain dalam hal yang diwakilkan, dimana
      anggota mewakilkan urusan tersebut kepada koperasi seperti: pengurusan SIM, STNK.
    5. Kafalah – berarti penjamin, dimana Koperasi Syariah bertindak sebagai penjamin kepada pihak ketiga. Hal ini dilakukan ketika anggota ingin mendapatkan fasilitas dari pihak ketika. Anggota memberikan imbalan kepada Koperasi Syariah dalam bentuk fee atau ujroh.

Adapun Produk Koperasi Syariah 212 Sebagai Berikut

Koperasi Syariah 212 lahir untuk mensejahterakan kaum muslimin, penting bagi kita untuk mempelajari dan mengambil pelajaran.

Produk Pendanaan

  1. Simpanan pokok

  2. Simpanan wajib

  3. Tabungan Investasi/Simpanan Sukarela

  4. Wakaf Uang

Produk Pembiayaan

Produk ini mencangkup pengembangan pemukiman dan properti syariah.

Produk dari Koperasi Syariah 212 ini berjalan berdasarkan prinsip bagi hasil kepada pemilik lahan.

Dimana Koperasi Syariah 212 berperan sebagai developer (pengembang) dan marketing ke seluruh anggota.

Anggota juga bisa mengambil peran sebagai turn key contractor, sehingga umat muslim bisa bekerjasama memaksimalkan lahan yang strategis.

Harapan besar dari program ini adalah lahan-lahan kamu muslimin akan tetap ditangan kaum muslimin dan tidak lepas ke pihak lain.

Produk Pengembangan Usaha

Seperti yang kita ketahui bersama, penguasaan jaringan waralaba dan mini market bisa menjadi kekuatan ekonomi. Kita perlu menseriusi hal ini karena ini bisa menjadi salah satu sektor ekonomi umat.

Jaringan ini baru bisa berjalan ketika supplay chain (distributor center) berhasil di dirikan.

Sementara Distributor Center baru akan stabil ketika manufaktur kebutuhan pokok rumah tangga berupa makanan dan minuman dapat dikuasai.

Target yang tak kalah penting dari Produk Pengembangan Usaha adalah akuisisi pabrik-pabrik dan manufaktur yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Leave a Comment